Senin, 14 September 2020
Ketua PDM, PCM Rebang Tangkas, Tim Medis Lazismu,
Peserta Khitan dan Kader IMM
Ketua PDM, PCPM Rebang Tangkas, Tim Medis Lazismu,
Peserta Khitan dan Kader IMM
Salah Satu Peserta Khitan Lazismu
Mas Aji dan Mas Danang
sedang melaksanakan proses Khitan
Mas Danang
sedang melaksanakan proses Khitan
Ketua PDM dan PCM Rebang Tangkas
Ketua Lazismu Berseragam KOKAM
di Curup pinang Indah Rebang Tangkas
Jalan yang harus di lalui tim Lazismu
untuk menuju lokasi kegiatan
Jalan yang harus di lalui tim Lazismu
untuk menuju lokasi kegiatan
Rebang Tangkas, 12 September 2020
Lebak Peniangan
Peserta Khitan 5 orang
Label: Dokumen Kegiatan
Oleh:
Munawar
Sponsored
By PCPM Rebang Tangkas
Rebang
Tangkas. Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Way Kanan. Bagiku,
kecamatan ini sangat “menantang” untuk di datangi. Setahun lebih rasa rindu ini
ingin mencium aroma wewangian pagi. Ibarat seorang yang merindukan sang
kekasih. Aku rela menjumpai, saat mentari hampir terbenam. Ya, sore ini aku
berangkat. Terasa special, aku dijemput “paksa” oleh kader IMM ini.
Sebenarnya,
aku ingin mengendarai kendaraan roda dua. Karena dengan itu, kenikmatan dalam
perjalanan akan semakin bermakna. Terlebih lagi deretan pepohonan masih
bersejajar rapi. Pun dengan jalan yang belum terbiasa aku lalui. Tekadku
sudah bulat. Ingin segera sampai di Lebak Peniangan. Menghirup udara dengan
sepuasnya.
Sebuah
alasan yang rasional, meruntuhkan semangatku. “Men aku wae sing jemput.” Biarkan saya saja yang menjemput. Bagiku,
permintaan mas Tri Sudarto sulit aku untuk menolaknya. Betapa tidak, dengan
semangat membara rela menjemputku. Jarak Rebang Tangkas – Blambangan Umpu
terbilang tidaklah dekat. Aku menyerah. Jemputan itu pun akhirnya tiba.
Aku
memposisikan sebagai seorang navigator. Cukup banyak pengalamanku soal posisi
ini. Hal terpenting dalam posisi ini adalah selalu terjaga. Tidak boleh tidur
walau sekejap. Inilah konsekwensi dari seorang navigator. Peran yang aku ambil
dalam rute Sekemay. Jalur yang sebentar lagi akan aku lalui.
“Kalau
misalnya di ujung jembatan itu ada yang ingin menumpang gimana?” tanyaku disela
sela mendengarkan musik.
“Weh,
kok aneh-aneh sampean ini”. Jawab Tri
dengan serius.
“Kok,
aneh. Meskipun ini bulan Suro, namun
memberikan tumpangan adalah kebaikan”. Aku memberikan alasan.
“Iyo sih Mas, tapi ya lihat-lihat dulu
siapa yang menumpang. Kalau dedemit
berwajah cantik gimana”. Kata Tri sambil menggeser tempat duduknya.
“Ndak
apa-apa lah”, jawabku.”Awas Kucing”. Tiba-tiba aku melanjutkan.
Obrolan
ringan terhenti. Instingku untuk membimbing hadir. Seoalah bos besar, aku
memberikan komando. “belok kiri’, “awas lubang”, “hati-hati”. Tiga kata yang
sering hadir. Hmm...ligat juga “supir” baruku ini. Aku tersenyum sambil
meliriknya. Dengan spontan tangan kirinya menekan tombol untuk memperbesar
volume musik.
Mula-mula
aku abaikan saja musik itu. Meskipun menggoda tuk berjoget, aku tetap bertahan.
Namun, aku mulai beraksi, tatkala lagu “Bojomu
Semangatku” mengalun. Perlahan tapi pasti, aku menyimaknya. “Setiap ono masalah aku eleng bojomu. Setiap
uripku susah aku kangen bojomu” .Bla, blaa blaa. Spontan, aku tak bisa
menahan ketawa.He.he.he.
Sebuah
lagu. Ya hanya sebuah lagu. Asyik memang untuk menghibur diri. Menyelingi
aktifitas dengan lagu. Menikmati lagu, bagiku juga asyik. Namun, menikmati lagu
sehingga benar-benar menghayati, terlalu beresiko. Bagiku lagu adalah lagu. Boleh
di dengarkan juga boleh tidak.
Malam
ini aku tidur di Rebang Tangkas. Bertemu dengan kawan-kawan hebat. Muda dan
enerjik. Semangat menjalankan roda persyarikatan Muhammadiyah. Membantu dan
berjuang untuk masyarakat. “Insya Allah, besok Tim Medis Klinik Ramik Ragom akan
mengkhitan lima anak melalui Lazismu Way Kanan.” Ucapku dalam obrolan malam
ini.
Sesungguhnya,
aku merasa heran. Malam yang biasanya dingin, ternyata tidak. Padahal, aku
telah mempersiapkan jaket KOKAM untuk melindungi tubuh. Kawan-kawan juga merasakan
hal yang sama. Bagiku, udara malam Rebang Tangkas mampu mengobati kerinduanku.
Saat
pagi menjumpaiku, aku telah terbangun. Beranjak keluar untuk menikmati aroma
khas bunga-bunga yang tersusun rapi. Indah tak bisa terlukiskan. Inilah salah
satu anugerah terindah yang Allah SWT berikan kepadaku. Hmm, sungguh beruntung
jika kita mampu selalu bersyukur dalam kehidupan kita.
Matahari
sudah beranjak, saat Tim medis dan Ketua PDM mengabarkan. “ Mas Kami sudah
jalan”, demikian pesan WA yang aku terima. Tentu ini bertanda bahwa kegiatan
berbagi untuk sesama akan dimulai. “Hati-hati di jalan, nikmati setiap detik
dalam perjalanan dengan senang”. Aku membalas WA tersebut.
Aku
mengamati, wajah anak-anak yang akan di khitan gratis ini satu persatu. Mereka
adalah generasi penerus. Melalui mereka kehidupan akan terus berlangsung. Sebuah
harapan terucap,”semoga kebaikan ini membahagiakan”. Ya, semoga membahagiakan. Karena
pada hakekatnya, kebahagiaan itu adalah milik bersama.
Wajah-wajah
sedikit cemas terlihat diwajah kelima anak yang hendak di khitan. Bebarapa orang
tua, nampak sibuk meyakinkan anaknya. Aku sudah terbiasa dengan kondisi ini. Aku
pun maklum, bagi anak-anak, inilah pengalaman pertama dalam hidup mereka. Dan semoga
menjadi pengalaman pertama dan terakhir.
“Mas
Deki, jadi ga yang muallaf?” tanyaku
ketika rombongan tiba.
“Kalau
jadi, jangan bidan yang mengkhitan ya, serahkan ke Mas Aji atau Mas Danang,
bisa bahaya”, aku menjawab sambil tertawa.
Mereka
pun tertawa sambil asyik mengambil moment dalam ponsel mereka.
Aku
kembali menyeruput kopi yang terhidang. Mengamati obrolan seru ketua PDM dan
masyarakat. Wajah sumingrah hadir bersama harapan-harapan baru. Dengan gaya
khasnya, pak ketua PDM mampu menyerap harapan itu untuk mengibarkan dakwah
Muhammadiyah. Dakwah amar ma’ruf nahi
mungkar. Membawa spirit Al-Maun
untuk berbagi ke sesama.
Alhamdulillah. Khitanan sudah usai. Ternyata muallaf yang disampaikan tadi, belum
terkonfirmasi. Jikalau jadi, aku bisa membayangkan betapa repotnya kawan-kawan
Pemuda Muhammadiyah Rebang Tangkas. Sudah pasti, Bidan Rina dan De’ Dea harus “menyingkir”.
Pintu harus tertutup. Tidak boleh ada yang melihat. Beruntung, muallaf yang sudah dewasa ini tidak
hadir. He.he.
Aku
sedikit kaget, saat Jeng Rina hendak pamit pulang. Ada pasien yang akan
melahirkan. Sudah bukaan lima. He.he.
Sudah ada yang menjemput dengan roda dua. “Pakai motor?”, aku bertanya seolah
tidak percaya. “Ya Mas”, jawabnya. Aku seakan tak percaya. Namun ini sungguh
terjadi.
Aku
tak percaya, dengan jalan yang tidak seluruhnya bagus, Jeng Rina tempuh. Menggunakan
roda dua. Betapa hebatnya, mau menempuh perjalanan itu. Melalui jalan yang
cukup “menantang”. Namun, semuanya di hadapi, untuk membantu seorang pasien. Luar
biasa. Aku membatin.
Meskipun
si “pemilik” jilbab biru dan kuning tidak hadir, yang beruntung adalah De’ Dea
dan “pangeran” Ashraff. Jalan-jalan ke Curup Pinang Indah, selepas acara usai. Bagiku
ini adalah hadiah terindah. Bisa jalan-jalan bersama Pimpinan Pemuda
Muhammadiyah Way Kanan. Sungguh beruntung hari ini.
Curup
Pinang Indah. Anugerah terindah yang diberikan Allah SWT. Alam yang begitu
menggoda untuk ber-swafoto. Menikmati air terjun dari bawah. Dibawah kibaran
Merah Putih, aku menyempatkan berfoto. Terimakasih ya Allah, Engkau ciptakan
pesona ini untuk seluruh makhluk-Mu.
Inilah
pertama kali aku datang ke curup ini. Padahal, selepas “mengembara” tahun 2005
aku sudah di Way Kanan. Mengenal Rebang Tangkas. Namun, perjumpaan dengan curup
yang luar biasa ini baru terjadi hari ini. Beruntung Tim Lazismu Way Kanan bisa
berkunjung.
Jeng
Rina, Bidan Viky dan Bidan Eka, jangan nagih ya. Janji sudah tertunaikan. He. He.
Memang, terkadang rencana yang dibuat, “takdir” berkata lain. Dan ternyata, De’
Dea dan si kecil Ashraff yang beruntung. Termasuk aku juga.
Terimakasih
LAZISMU Way Kanan dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Rebang
Tangkas. Biarkan cerita, dua bujang yang mandi dan “si Tayo” yang kehausan menjadi
bagian dari perjalanan Musyawarah Cabang Pemuda Muhammadiyah Rebang Tangkas.He.he.
Rebang Tangkas, 12 September 2020
Label: Muhammadiyah Corner
Sabtu, 12 September 2020
Oleh:
Munawar
Sponsored by Kopi NA
“Anak
laki-laki itu harus siap sedia”. Sayup-sayup aku dengar percakapan seorang ayah
kepada anaknya. Sebuah untaian nasehat. Percapakan itu membuatku terdiam sesaat.
Aku menoleh sambil memperhatikan keduanya. Mereka asyik melihat tim kesehatan
Lazismu Way Kanan bekerja. Mengkhitan tiga anak dari kampung yang berbeda.
Siap
sedia. Itu kata kunci. Pembuka pintu yang tersisa. Hmm....aku mengangguk tanpa
makna. Bisa jadi itu adalah sebuah rayuan. Gombal
mukiyo, kata orang Jawa. Sudah gombal
harus di tambah mukiyo. Berat benar
ini pemaknaanya. Sampai kapanpun, kalau kata itu hadir, tertawa menjadi sebuah
kepastian. Bertanyalah kepada kedua kadus Umpu Kencana ini. Pasti penjelasanya
membuat ngekek.
Kang
Mahfudz dan Mas Budi bukanya tidak mau menjelaskan. Aku tahu dari kedipan
matanya. Penuh makna isyarat. Terlebih lagi ada Pa’de Eko. Semua hanya bagian
dari pinggiran rengginang. Entah bisa di makan atau tidak, jika tengahan
rengginangnya tidak ada. Sebuah istilah yang mungkin bermakna ganda.
Aku
tersenyum. Berusaha menyimpan kedalam file
memoriku. Sambil berharap suatu saat ada yang mau menceritakan renyahnya makan
rengginang. Sekali lagi aku hanya tersenyum. Kembali fokus pada pekerjaanku memilih
foto terbaik. Inilah profesiku saat ini. Mengabadikan moment penting. Peristiwa
yang tidak akan terulang kembali. Hmm...momen bersejarah.
Cuaca
begitu terik menyengat. Keringat seakan tak berhenti mengalir. Sebuah kursi
menjadi benda berharga. Bersandar adalah cara terbaik saat ini. Dari sudut
kanan, Pa’de Eko masih sibuk. Sedangkan dua tim medis nampak konsentrasi. Sangat
berbahaya jika konsentrasi tersebut hilang. “Iso
tekan pok. Gawat kan”. He.he. Begitulah guyonan kawan-kawan.
Ada
yang berbeda hari ini. Aku mencari-cari nuansa itu. Namun, sampai detik ini
belum ketemu. Apakah tangisan anak yang di khitan? Canda tawa kawan-kawan? Ataukah
bidan jilbab biru dan jilbab kuning belum tersenyum? Nampaknya bukan. Jujur,
masih sulit bagiku tuk menemukan nuansa yang berbeda ini.
Aku
beranjak. Sengaja mencari nuansa itu. Ku pandangi pohon rambutan yang tak berbuah.
Pohon itu membisu. Seakan mengejekku. Meskipun demikian, aku tetap mencari. Dimanakah
nuansa berbeda itu.
“Mau
kemana mas?”, tanya seorang warga.
“Kebelakang
sebentar pak”. Jawabku tersenyum
Aku
hanya menemui sepi. Bayangan fatamorgana pun tak mau hadir. “Ada yang kurang”,
pikirku selanjutnya. Aku masih belum bisa menemukan jawaban. Ya, sebuah jawaban
dibalik kegelisahan jiwa.
Ah
biarlah. “Ben ke wae yo mas”, sebuah
suara berkata. Suara yang familiar aku dengar. He.he. Bisa jadi itu hanya
sebuah imajinasi liar. Bayangan maya dalam bingkai embun pagi. Biarkan saja
mengalir. Toh, seliar liarnya imajinasi tak berbahaya. Perbuatanlah yang
membahayakan. Akan lebih berbahaya lagi jika kedua duanya bertemu. Apalagi di
tepi pantai.
Jangan
membicarakan pantai ya. Bisa saja mengingatkan masa lalu. Kalau masa lalu itu
indah, pasti mengasikkan. Jika sebaliknya. Hmm...runyam jadinya. Bukankah pantai
mengajar keindahan? Desiran ombak, terpaan angin, juga pasir yang menggoda.
Lupakan
pantai sejenak. Begitu nasehat yang ada. Lebih baik bercerita tentang Way Giham
atau Way Umpu. Banyak hal bisa dilaksanakan disana. Bukan hanya sekedar
memancing, bermain petak umpet pun
bisa. Hanya satu syarat utamanya. Jangan bermain malam hari disana. He.he.
Aku
masih terus mencari. Nuansa yang berbeda cukup rumit ditemukan. Minimal saat
ini. Apakah ini bermakna? Bagiku, cukup bermakna. Sebuah perwujudan hakiki akan
nampak dengan sendirinya.
Dalam
pencarian ini, desiran angin mengabarkan. Ingatanku melayang tentang kisah
Qorun. Manusia yang sangat kaya. Harta begitu melimpah. Nampaknya, kebahagiaan
selalu ada. Sebuah kebahagiaan yang telah diberikan. Kebahagian yang
ditakdirkan.
Aku
kembali. Menemui kawan-kawan. Melihat proses khitan yang belum usai. Dengan langkah
santai aku berjalan. Senyumanku hadir. Sebuah tanda bahwa kerisauanku terjawab.
Aku kembali dengan perasaan berbeda. Yang membedakan adalah sebuah jawaban. Aku
telah menemukan sebuah jawaban atas kegelisahanku. “Yes, yes, yes”, batinku berkata.
Kebahagiaan.
Ya itulah jawabanya. Aku ingin bahagia. Masyarakat yang menyaksikan ingin
bahagia. Bahkan, semuanya ingin bahagia. Termasuk Syekh Siti Jenar dengan
manunggaling kawulo gusti –nya, ingin bahagia. Apalagi, kebahagiaan itu mudah
didapatkan. Semudah aku mendapatkan sebuah senyuman yang menggoda. Hmm...
Inilah
kebahagiaan itu. Kebahagiaan Mas Aji dan Jeng Rina. Mungkin dapat aku tandai
dengan adanya kondisi psikologis yang positif. Kondisi ini didukung dengan
tingkat emosi positif yang tinggi. Satu hal lagi adalah tingkat emosi negatif keduanya
yang rendah. Kira – kira begitu ya jeng.
Kalaulah salah, please, jangan ngambek. Ini hanya efek gombal mukiyo tadi. He.he.
Tapi,
semua itu hanya bersifat sementara lho jeng.
Kebahagiaan orang tua menyaksikan anaknya di khitan, juga sementara. Termasuk kebahagiaan
Mas Eko bisa bertemu dengan kader IMM. Sekali lagi, itu hanya sementara. Meskipun
bisa bangga menjadi driver Om Tri
Sudarto yang sempat nyasar. Bagiku, kader IMM nyasar itu juga bagian dari kebahagiaan sementara.
Dengan
kondisi ini, aku teringat seorang tokoh. Nah, Om Tri Sudarto dan Pa’de Eko
wajib membaca buku ini ya. Akan tetapi saya ga yakin, keduanya mau ya. Bayangkan
saja. Judul bukunya saja sulit diterjemahkan. Jika tidak percaya, silahkan baca
dan nikmati kesusahanya. He.he.he. " Authentic Happiness : Using the New Positive Psychology to
Realize Your Potential for Lasting Fulfillment”. Bagaimana? Bisa kan menerjemahkan judul itu? Kalau bisa, aku kasih
hadiah sebungkus permen coklat ya.
Baiklah. Aku paham dengan
isyaratmu itu. Buku itu di tulis oleh Martin Seligman. seorang tokoh yang bergelut
dalam psikologi positif. Ini adalah tokoh hebat. Luar biasa. Coba dicerna
apa yang diungkapkanya. “Bahwa
kebahagiaan autentik berasal dari hasil penilaian diri atau hasil
mengidentifikasi dan menumbuhkan kekuatan fundamental (yang terkait dengan
emosi positif)”. Nah sudah mengerti kan? Jika belum memahami, bisa di baca tulisanya
Paristiana Dian Fikroti, Memahami Konsep Kebahagiaan Martin Seligmen,
dalam Pijarpsikologi.org. edisi 3 Mei
2019.
Aku
bahagia. Semua bahagia. Meskipun dengan hal yang sederhana. Namun ada hal yang
harus kita ketahui. Pengetahuan ini adalah wajib bagi Muslim. Cobalah membaca
sebentar firman Allah ini. “Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS
Al-Qashash : 77)
Ah,
ternyata khitan sudah selesai. Aku harus beralih profesi. Menjadi driver. Mengantarkan
“peserta” yang di khitan ke Gunung Sangkaran. Lokasi yang tidak jauh dari
jembatan Way Tahmi. Aku bahagia mendapatkan tugas terhormat ini.
Aku
masih bahagia. Kembali lagi menemui kedua “mempelai” yang sedari tadi membuatku
mencari nuansa berbeda. Ku temukan nuansa itu adalah Mas Aji dengan pakaian
yang tidak biasa. Nampak gagah. Sementara, Jeng Rina, juga anggun. Hmm...pengantin
baru nih. Batinku.
“Ayo
bulan madu Mas, mumpung Ashraff ga ikut. Yakin saja, Ashraff akan bahagia kok,
kalau ada temenya”. He.he.he
Jeng, jangan marah ya. Kalau
sewot, aku tunggu hari Sabtu di
Rebang Tangkas ya. Lebih asyik kalau ada bidan yang ikut. Ada bujang kader IMM
juga disana.
Akhirnya,
selamat menikmati perjalanan ke Rebang Tangkas. Nikmati keseruan dalam
perjalanan. Jika ada bidan yang ikut, mendokumentasikan jalanan yang unik itu
lebih baik. minimal untuk pengalaman.
Di
samping Pa’de Eko menceletuk, “ngarep wae
mas”. Sambil terkekeh. Kata itu, maksudnya sangat berharap. Entah kepada siapa
harapan itu tertuju.
Blambangan
Umpu, 11 September 2020
Label: Muhammadiyah Corner












